Langsung ke konten utama

MEWUJUDKAN TOL LAUT

OLEH: DARMANINGTYAS, KETUA BIDANG ADVOKASI MTI 
(MASYARAKAT TRANSPORTASI INDONESIA)
Dimuat di Harian Sore Suara Pembaruan, Tanggal 16 April 2015

Konsep tol laut atau jaringan angkutan laut yang cepat sempat popular pada saat masa kampanye presiden 2014 lantaran calon Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan calon Wakil Presiden Jusuf Kalla mengangkat isu tol laut sebagai salah satu materi kampanyenya. Dasar pemunculan konsep tol laut itu adalah untuk mengurangi kesenjangan dalam menikmati hasil-hasil pembangunan antara Jawa dan luar Jawa, utamanya Indonesia bagian timur, khususnya Maluku, Maluku Utara, NTT, dan Papua. Selisih harga barang-barang yang terlalu jauh antara Jawa dan luar Jawa, terutama Indonesia bagian timur, telah menyebabkan masyarakat di Indonesia bagian timur tidak bisa menikmati hasil-hasil pembangunan secara nyaman. Sebagai contoh, harga semen antara Jawa dengan Papua bisa mencapai sepuluh kali lipat. Tentu ini kurang baik dilihat dari aspek keadilan sosial.


Konsep tol laut yang dimunculkan oleh Jokowi pada saat menuliskan visi misinya itu sudah tepat, sekarang setelah Jokowi menjadi Presiden RI ke-7 tinggal memujudkannya. Tapi masalahnya adalah sampai sekarang belum ada tanda-tanda mewujudkannya, bahkan beberapa pihak yang seharusnya paham mengenai konsep tol laut tersebut sekarang ini bila ditanya mengenai perkembangan tol laut menjadi seperti glagapan (kebingungan), mengingat konsep maupun anggarannya belum jelas.

Memperjelas Konsep

Sebetulnya secara nalar, konsep tol laut itu mudah dipahami. Bukan suatu bangunan jalan di atas laut yang terbentung dari Merauke sampai Sabang, tapi suatu alur pelayaran yang langsung dari Pelabuhan di Belawan (Medan, Sumatra Utara) sampai Sorong (Papua) atau bahkan sampai Merauke sana. Dalam konsep Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono dulu disebut Pendulum Nusantara, yaitu alur pelayaran di Indonesia yang menghubungkan antara pulau-pulau besar di Indonesia.

Mengingat wilayah Indonesia begitu luas, maka pilihan alurnya tentu tidak bisa satu, tapi minimum dua. Jalur pertama bisa dari Belawan – Batam – Jawa (Tanjung Priok, Tanjung Emas, dan Tanjung Perak) – Makasar – NTT (Flores) – Sorong. Atau bisa disebut Alur 1. Kedua, juga dapat disebut Alur 2 itu dari Belawan – Batam – Jawa – Banjarmasin - Balikpapan – Makasar – Maluku – Maluku Utara – Sorong. Perlu ada dua alur atau koridor mengingat lintas bawah (NTT) juga perlu dilayani secara khusus, sementara kalo hanya ada satu koridor, sehingga harus melayani atas (Maluku dan Maluku Utara) dan juga bawah (NTT), maka pelayarannya terlalu lama sehingga tidak bisa menjadi tol (jalan cepat) lagi. Oleh karena itu dua koridor itu perlu diwujudkan secara bersama-sama.

Setelah alur yang akan ditempuh oleh tol laut itu disepakati, maka ada sejumlah langkah segera perlu dilakukan. Pertama,  membangun pelabuhan baru atau mengembangkan pelabuhan-pelabuhan telah ada dan akan disinggahi oleh tol laut agar pelabuhan-pelabuhan tersebut siap menampung kapal-kapal yang akan melakukan bongkar muat muatan tanpa mengalami gangguan termasuk tidak menyebabkan delay pada kapal-kapal lain yang akan berlayar di luar alur tol laut. Sampai saat ini publik belum mengetahui persis pelabuhan-pelabuhan mana yang akan disinggahi oleh kapal tol laut. Ibarat membangun busway, di mana titik-titik haltenya itu belum diketahui oleh publik.

Kedua, masalah pengadaan sarana (kapal). Tol laut ini akan memanfaatkan kapal-kapal BUMN yang sudah ada ataukah akan membeli baru? Bila membeli baru, tentu sudah harus dilakukan sekarang mengingat membeli kapal tidak bisa seperti membeli bus yang dapat dipesan dalam waktu 1-3 bulan. Beli kapal dengan spec tertentu memerlukan waktu mencapai satu tahun, sehingga perlu pesan lebih awal agar saat infrastrukturnya siap, kapalnya juga siap.

Ketiga, masalah alokasi anggaran, baik untuk membangun/mengembangkan pelabuhan, membeli kapal baru, serta subsidi operasionalnya sampai sekarang publik juga masih awam: berapa sih anggaran APBN yang dialokasikan untuk mewujudkan tol laut selama lima tahun? Mengenai anggaran ini memerlukan kepastian (komitmen) dan transparansi (pengelolaan) agar masyarakat dapat turut serta mengontrolnya, jangan sampai anggaran besar tapi pemanfaatannya tidak efisien. Atau sebaliknya, justru tidak dianggarkan sama sekali pada APBN 2015 ini sehingga belum dapat dimulai prosesnya.

Keempat, memperjelas penanggung jawab implementasi program: Kementrian Kelautan, Kemaritiman, atau Perhubungan? Sekarang ini publik tidak tahu persis siapa sesungguhnya yang bertanggung jawab untuk mengimplementasikan program tol laut tersebut dan sudah sampai sejauh mana tahapannya.

Kelima, regulasi mengenai siapa yang harus menjadi operator tol laut perlu diperjelas, apakah PELNI sebagai BUMN transportasi laut atau ditenderkan kepada swasta? Bila tender ke operator swasta, bagaimana dapat menjamin agar tidak terjadi stop operasional pada saat masa kontraknya habis? Pengalaman pelayanan jasa angkutan dengan sistem tender selalu mengalami stop operasional pada saat masa kontraknya habis sementara pemenang tender baru belum ditentukan. Hal itu tidak boleh terjadi pada tol laut. Kejelasan regulasi tersebut juga menyangkut soal subsidi untuk operasional tol laut pada saat awal, jangan sampai operasional tol laut  terganggu karena subsidi belum turun.

Menyiapkan Wilayah

Konsep tol laut ini akan berhasil meningkatkan kesejahteraan masyarakat apabila didukung dengan pembangunan kawasan ekonomi di daerah sehingga kapal yang hilir mudik dari Belawan sampai Sorong dapat terisi barang, tidak hanya saat ke timur saja, tapi ke barat pun penuh muatan. Bila kapal penuh muatan saat berlayar ke timur dan ke barat, dari segi operasional lebih efisien dan menguntungkan, dan dari segi perkembangan daerah ada kegiatan ekonomi yang tumbuh. Pada saat ini, kapal hanya penuh muatan pada saat berlayar ke timur, tapi saat menuju ke barat kosong. Akibatnya, biaya transportasi mengangkut barang ke timur (dari Jawa ke Papua) menjadi amat mahal karena menanggung ongkos pergi pulang. Hal itu mengingat tidak ada produk dari timur yang dapat diangkut ke barat.

Ketiadaan produk dari timur yang dapat diangkut ke barat itu suatu ironi mengingat Indonesia bagian timur kaya akan sumber daya alam: laut, perairan, hutan, pertanian, peternakan, dan perkebunan. Semestinya, ketika kapal itu dari Jawa berlayar ke timur membawa produk industri, ke barat berlayar dengan membawa produk laut, perairan, hutan, pertanian, peternakan, perikanan, dan perkebunan. Tugas Pemerintah sekarang adalah mendorong pengembangan kawasan ekonomi produktif di wilayah Indonesia timur itu dengan mengembangkan sektor laut, pengairan, peternakan, pertanian, kehutanan, dan kebun agar banyak produk yang dapat diangkut ke barat. Di Papua Pemerintah dapat mengembangkan peternakan sapi, industri hutan, pertanian, dan laut daripada kita impor dari Australia. Bila sapi bisa hidup di Australia yang dingin, tentu di Papua juga bisa hidup. Di NTT sudah terbukti bagus untuk peternakan sapi dan kuda. Sedangkan Maluku dan Maluku Utara dapat dikembangkan industri pengolahan hasil laut. Pengembangan kawasan ekonomi dan industri baru di wilayah Indonesia timur itu selain akan membuka lapangan kerja di sana, juga mempercepat pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat setempat. Di sisi lain, tol laut dapat beroperasional secara menguntungkan. Sekarang yang penting adalah komitmen pemerintah untuk mewujudkan tol laut tersebut agar tidak sekadar wacana belaka.



Komentar

  1. Assalamu Alaikum wr-wb, perkenalkan nama saya ibu Rosnida zainab asal Kalimantan Timur, saya ingin mempublikasikan KISAH KESUKSESAN saya menjadi seorang PNS. saya ingin berbagi kesuksesan keseluruh pegawai honorer di instansi pemerintahan manapun, saya mengabdikan diri sebagai guru disebuah desa terpencil, dan disini daerah tempat saya mengajar hanya dialiri listrik tenaga surya, saya melakukan ini demi kepentingan anak murid saya yang ingin menggapai cita-cita, Sudah 9 tahun saya jadi tenaga honor belum diangkat jadi PNS Bahkan saya sudah 4 kali mengikuti ujian, dan membayar 70 jt namun hailnya nol uang pun tidak kembali, bahkan saya sempat putus asah, pada suatu hari sekolah tempat saya mengajar mendapat tamu istimewa dari salah seorang pejabat tinggi dari kantor BKN pusat karena saya sendiri mendapat penghargaan pengawai honorer teladan, disinilah awal perkenalan saya dengan beliau, dan secara kebetulan beliau menitipkan nomor hp pribadinya dan 3 bln kemudian saya pun coba menghubungi beliau dan beliau menyuruh saya mengirim berkas saya melalui email, Satu minggu kemudian saya sudah ada panggilan ke jakarta untuk ujian, alhamdulillah berkat bantuan beliau saya pun bisa lulus dan SK saya akhirnya bisa keluar,dan saya sangat berterimah kasih ke pada beliau dan sudah mau membantu saya, itu adalah kisah nyata dari saya, jika anda ingin seperti saya, anda bisa Hubungi Bpk Drs Tauhid SH Msi No Hp 0853-1144-2258. siapa tau beliau masih bisa membantu anda, Wassalamu Alaikum Wr Wr ..

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

BIODATA DARMANINGTYAS

BIODATA DARMANINGTYAS, menggeluti pendidikan sejak mulai menjadi mahasiswa baru di UGM, Agustus 1982 dengan menjadi guru di SMP Binamuda dan SMA Muhammadiyah Panggang, Gunungkidul, DIY. Pendidikan formalnya cukup Sarjana Filsafat Universitas Gadjah Mada (UGM) dan selebihnya otodidak. Gelar “Profesor Doktor” diperoleh dari undangan, sertifikat, piagam, spanduk, dan sejenisnya; sebagai bentuk pengakuan nyata dari masyarakat.

Masyarakat Diajak Adaptasi

Pemerintah, melalui lembaga dan kementerian, mengeluarkan peraturan dan edaran perihal protokol atau pedoman kesehatan. Protokol itu berlaku di tempat masyarakat, industri, sektor jasa, dan perdagangan.

REFLEKSI DARI PELATIHAN GURU SASARAN DI LAMPUNG

Berikut saya sampaikan refleksi saya tatkala mendapat tugas untuk membuka dan kasih pengarahan pada pelatihan guru sasaran di Lampung tanggal 9 Juli lalu. Semoga refleksi in dapat menjadi bahaperbaikan proses pelatihan guru yang akan dating sehingga menjadi lebih baik.