Senin, 29 September 2014

MENYELAMATKAN PEJALAN KAKI DI YOGYAKARTA


Oleh: Darmaningtyas, Ketua Bidang Advokasi MTI (Masyarakat Transportasi Indonesia) di Jakarta 
Dimuat di Koran Kedaulatan Rakyat, tanggal 29 September 2014


Kota Yogykarta sebagai kota pariwisata, pelajar, dan budaya sesungguhnya mengandung paradok karena tidak ada tempat bagi para wisatawan, pelajar, dan warga untuk berjalan secara santai menikmati suasana kota. Tidak ada ada satu ruas jalan pun yang nyaman untuk pejalan kaki. Bandingkan dengan Jakarta yang memiliki fasilitas pejalan kaki sepanjang Sudirman – Thamrin hingga Medan Merdeka Barat dan Merdeka Selatan. Trotoar di sana selain lebar, juga dilindungi oleh pepohonan yang rindang, meski sedang dalam tahap pertumbuhan. Begitu juga Kota Surabaya memiliki fasilitas pejalan kaki  di sepanjang Jl Tunjungan, Pemuda, Sudirman, Dharmo, Urip Sumoharjo, dan Diponegoro. Bahkan Kota Semarang pun memiliki fasilitas pejalan kaki yang cukup nyaman di sekitar Simpang Lima maupun Balai Kota.

Selasa, 16 September 2014

KELEMBAGAAN PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN, DAN RISTEK

OLEH: DARMANINGTYAS
PENGAMAT PENDIDIKAN DARI TAMANSISWA

Menyambut pemerintahan baru dibawah kepemimpinan Joko Widodo (Jokowi) dan Jusuf Kalla (Jokowi-JK) muncul beberapa gagasan dalam bidang pendidikan, budaya, serta riset dan teknologi (Ristek). Sejumlah seniman dan budayawan mengusulkan agar dibentuk Kementrian Kebudayaan yang khusus mengurusi kebudayaan agar kebudayaan dapat berkembang secara maksimal. Mereka berharap dengan disahkannya RUU Kebudayaan menjadi UU Kebudayaan kelak ada kementrian khusus yang mengawal implementasinya. Sedangkan mereka yang memiliki concerndalam bidang Ristek mengusulkan agar dilakukan pemisahan antara kementrian yang mengurusi pendidikan dasar dan menengah (Dikdasmen) dengan kementrian yang mengurusi pendidikan tinggi (PT). PT diusulkan digabung menjadi satu dengan kementrian yang mengurusi Ristek, yaitu BPPT dengan alasan agar riset-riset di PT dapat diimplementasikan dan tidak hanya menjadi dokumen di laci saja. 

Kamis, 04 September 2014

MEMPERTIMBANGKAN PEMISAHAN DIKDASMEN DAN PT

OLEH: DARMANINGTYAS
KETUA DEP. PENDIDIKAN DAN PEMBUDAYAAN NILAI-NILAI KEJUANGAN 45 DHN (DEWAN HARIAN NASIONAL) 45 DI JAKARTA
Dimuat di Harian Sore Suara Pembaruan Kamis, 4 September 2014

Setahun terakhir muncul wacana untuk memisahkan kelembagaan antara pendidikan dasar dan menengah (Dikdasmen) dengan pendidikan tinggi (PT).  Dikdasmen berada dalam satu kementrian, sedangkan PT bergabung dengan Kementrian Riset dan Teknologi (Ristek) agar hasil-hasil penelitian PT dapat langsung diaplikasikan. Bahkan muncul gagasan yang lebih luas lagi, yaitu penggabungan antara PT, Ristek, dan Industri. Asumsinya, bila menyatu, maka industri itu menjadi tempat penyaluran hasil-hasil riset dan lulusan perguruan tinggi, sedangkan perguruan tinggi menjadi R & D (research and development)-nya industri, sehingga terjadi simbiosisi mutualisme antara PT, Riset, dan Industri.

Kamis, 28 Agustus 2014

ANTARA BOS DAN KIP

Oleh: Darmaningtyas
Pengamat Pendidikan
               Dimuat Di Koran Tempo Jumat, 29 Agustus 2014

Salah satu program unggulan calon Presiden terpilih Joko Widodo (Jokowi) adalah Kartu Indonesia Pintar (KIP). Program ini mengadopsi Kartu Jakarta Pintar (KJP) yang sudah diterapkan di Jakarta sejak tahun 2013. KJP dimaksudkan untuk memberikan bantuan personal kepada anak-anak dari golongan miskin agar mereka tetap dapat bersekolah tanpa mengalami hambatan mengenai pakaian seragam, sepatu, tas, atau bahkan transportasi. Sebelumnya, anak-anak miskin mengalami hambatan ekonomi untuk bersekolah meskipun sekolahnya telah gratis, baik karena memperoleh bantuan operasional sekolah (BOS) dari Pemerintah untuk SD-SMP, maupun karena memperoleh bantuan operasional pendidikan (BOP) terutama untuk sekolah-sekolah negeri. BOS dan BOP merupakan bantuan pendanaan untuk institusi (sekolah), sedangkan KJP merupakan bantuan yang bersifat personal.

Jumat, 22 Agustus 2014

MENUNDA DAN EVALUASI KURIKULUM 2013

Oleh: Darmaningtyas, Ketua Departemen Pendidikan dan Pembudayaan Nilai-nilai Kejuangan 1945, Dewan Harian Nasional 45 (DHN 45) Jakarta
Dimuat di Harian Sore Suara Pembaruan, Tanggal 21 Agustus 2014

Kurikulum 2013 baru diimplementasikan secara merata di seluruh wilayah Indonesia mulai Tahun Ajaran 2014/2015, setelah sebelumnya (Tahun Ajaran 2013/2014) diimplementasikan secara terbatas. Namun rencana implementasi secara merata pada tahun 2014 ini pun tampaknya gagal karena hingga minggu ketiga Agustus banyak sekolah, termasuk di Jakarta yang belum menerima buku dan gurunya belum semua terlatih. Padahal, buku dan  guru merupakan kunci utama implementasi Kurikulum 2013. Bila keduanya itu tidak ada, maka tidak bisa diimplementasikan dan lebih baik kembali ke kurikulum sebelumnya, yaitu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).

Senin, 04 Agustus 2014

MENATA KEMBALI RELASI PUSAT-DAERAH

Oleh: Darmaningtyas, Pengamat Pendidikan dari Tamansiswa
Dimuat di Koran Tempo, Sabtu, 2 Agustus 2014
Terpilihnya pasangan Joko Widodo (Jokowi) dan Jussuf Kalla (JK) sebagai calon Presiden dan Wakil Presiden 204-2019 akan membawa implikasi politik yang luas, termasuk menyangkut relasi antara Pusat-Daerah dalam bidang pendidikan. Hal itu mengingat visi-misi Jokowi-JK hanya mungkin dapat diimplementasikan bila didukung oleh penataan kelembagaan di Pusat maupun Daerah.

Kamis, 03 Juli 2014

BECAK MOTOR DAN PARIWISATA YOGYAKARTA

Oleh : Darmaningtyas, Ketua Bidang Advokasi MTI (Masyarakat Transportasi Indonesia) di Jakarta
Dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat, tanggal 2 Juli 2014

Becak dan andong merupakan salah satu daya tarik wisata Kota Yogyakarta. Artinya tidak jarang seseorang ingin berwisata ke Yogyakata karena ingin merasakan keliling kota dengan naik becak/andong. Tamasya berkeliling kota dengan naik becak banyak dilakukan oleh para wisatawan asing (bule). Pada umumnya, yang dinaiki oleh para wisatawan itu adalah becak yang dikayuh dengan tenaga manusia (becak tidak bermotor), bukan dengan tenaga mesin atau yang dikenal dengan becak bermotor (Betor). Ini menandakan bahwa becak merupakan daya tarik tersendiri bagi wisatawan asing maupun domestik pada saat berwisata di Yogyakarta.