Senin, 02 Maret 2015

ASAP ROKOK DI BUS KOTA

Oleh: Darmaningtyas
Ketua Bidang Advokasi Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI)
Dimuat di Koran Kedaulatan Rakyat, 3 Maret 2015

Siang itu (25/2), Bus Kopata jalur 4 yang melintasi kawasan Malioboro banyak penumpang, banyak kursi yang terisi. Hanya empat kursi depan samping kiri pengmudi yang masih kosong. Seorang bapak naik di depan Pura Pakualaman dan kemudian duduk di kursi nomer dua dari depan samping kiri pengemudi yang masih kosong tadi. Udara panas, tapi bapak itu naik ke  dalam bus kota dengan tanpa mematikan rokoknya, dia masih tetap merokok di dalam bus kota yang banyak penumpang tersebut. Seorang ibu yang duduk persis di belapang  pengemudi dan kanan bapak yang tidak mematikan rokok itu mengambil masker untuk menutup hidungnya. Rupanya ibu itu tidak tahan asap rokok, tapi tidak berani menegur bapak yang merokok. Belakangan ketahuan bapak tersebut temen pengemudi bus kota, terlihat dari percakapan mereka yang amat akrab.

Mempertimbangkan Penghapusan Kopertis

Oleh: Darmaningtyas 
Pengamat Pendidikan, Penulis Buku “Melawan Liberalisasi Pendidikan” 
Dimuat Di Koran Sindo, Senin,  2 Maret 2015

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristek- Dikti) M Nasir mewacanakan penghapusan dikotomi antara PTN (perguruan tinggi negeri) dan PTS (perguruan tinggi swasta). 

PERMASALAHAN BARU UJIAN NASIONAL

OLEH: DARMANINGTYAS
Aktivis Pendidikan di Tamansiswa
Dimuat Di Koran Tempo, 2 Maret 2015

Ada dua masalah baru yang terkait dengan Ujian Nasional (UN), yaitu satu persoalan substansi, terkait dengan fungsi UN itu sendiri; dan kedua terkait dengan metodologi, yaitu berkaitan dengan pelaksanaan UN yang memakai bahan cetak serta berbasis komputer. Selama ini, UN hanya menggunakan satu cara saja, yaitu cetak, tapi pada UN 2015 ini diuji-cobakan pelaksanaan UN dengan berbasis komputer.

Senin, 23 Februari 2015

PENDIDIKAN BERBASIS BUDAYA[1]

OLEH: DARMANINGTYAS
Pengantar:

Subtema Seminar Nasional mengenai “Kembali Budaya Bangsaku” yang merupakan rangkaian acara dari “Festival Pendidikan 2015” tingkat Jawa Tengah dengan tema “Menggali Nilai-Nilai Budaya dalam Pendidikan” ini mengingatkan kita terhadap arah pendidikan nasional yang seakan tercerabut dari akar budaya bangsa, sehingga budaya bangsaku itu sendiri hilang karena pendidikan yang seharusnya menjadi penyemai budaya bangsa tidak berakar lagi pada budaya, melainkn berakar pada paham pragmatisme kehidupan.

Senin, 16 Februari 2015

MENANTI AYAH BUNDA

OLEH: DARMANINGTYAS

Ayah Bunda merupakan sebutan yang amat khas di kalangan kelas menengah terdidik. Jarang sekali anak-anak dari orang kebanyakan menyebut kedua orang tua mereka dengan sebutan “ayah bunda”. Sebutan “ayah bunda” itu memperlihatkan kelekatan emosional relasi antara relasi anak dengan orang tuanya (bapak dan ibu). Para ibu dari kalangan terdidik yang care terhadap anaknya akan selalu membahasakan anaknya dengan “bunda”.  Tidak aneh bila sebutan “ayah bunda” itu kemudian menjadi nama majalah keluarga. Pilihan nama tersebut, bukan tanpa pertimbangan yang masak, tapi didasarkan pada makna filosofis dan semantic. Itulah sebabnya namanya “ayah bunda”, bukan “bapak ibu” atau “papa mama”.

Minggu, 15 Februari 2015

MEA DAN KESIAPAN LULUSAN LPTK

OLEH: DARMANINGTYAS

Pengantar:
Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) atau ASEAN Economic Community (AEC) sesungguhnya bukan isu baru karena dalam dua dekade terakhir ini sebetulnya kita telah hidup dalam suatu tatanan ekonomi global yang kendalinya tidak lagi ada pada kita, melainkan pada kekuatan kapotal dan pasar secara terbuka. Kalau kita cermati, apa saja yang kita konsumsi sehari-hari: beras, jagung, kacang-kacangan, telor, daging ayam, daging sapi, sayuran, buah-buahan, hingga pakaian batik yang seharusnya menjadi kebanggaan kita pun kita impor, dan sebagian juga dari Negara anggota ASEAN. Demikian pula tenaga kerja yang bekerja di Indonesia untuk bidang  IT dan finansial banyak yang dari Malaysia, Singapura, dan Philipina. Tenaga kerja Indonesia juga jutaan yang bekerja di Negara-negara anggota ASEAN, hanya saja, tenaga kerja Indonesia yang bekerja di Negara-negara ASEAN itu adalah tenaga-tenaga kasar atau tidak terdidik.

Selasa, 10 Februari 2015

MEMPERTIMBANGKAN PEMBUBARAN KOPERTIS

Oleh: Darmaningtyas
Penulis Buku Melawan Liberalisasi Pendidikan (2014)

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristek Dikti) M. Nasir mewacanakan penghapusan dikotomi antara PTN (Perguruan Tinggi Negeri) dengan PTS (Perguruan Tinggi Swasta)  dan akan mendirikan Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi  (LLPT) untuk menggantikan keberadaan Koordinator Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) yang selama ini menyebar di 12 wilayah di seluruh Indonesia. Pegawai Kopertis adalah PNS dari Direktorat Pendidikan Tinggi atau dari PTN di wilayah masing-masing.