Minggu, 22 Maret 2015

MENAKAR KEHADIRAN NEGARA DALAM PENDIDIKAN ISLAM

OLEH: DARMANINGTYAS

Membaca dua dua yang berjudul Mutiara Terpendam, Profil Para Penerima Beasiswa Pendidikan Islam dan Mendidik Tanpa Pamrih, Kisah Para Pejuang Pendidikan Islam  yang diterbitkan oleh Direktorat Jendral Pendidikan Islam Kementrian Agama RI, kita dapat menangkap adanya satu spirit yang sama, yaitu keinginan untuk melakukan perubahan melalui pendidikan, baik itu pada generasi tua untuk melaksanakan pendidikan bagi yang muda, maupun bagi yang muda untuk memperoleh akses pendidikan.

Selasa, 17 Maret 2015

Transportasi di Koridor Timur Jakarta

Oleh: Darmaningtyas
Penulis adalah Direktur Instran (Institut Studi Transportasi) di Jakarta
Dimuat di Harian Sore Suara Pembaruan, Tanggal 14 Maret 2015

Judul berita Suara Pembaruan, 3 Maret 2015 hal B2 “Proyek Properti di Timur Jakarta Rp 338 T” menarik untuk diperhatikan. Ada sejumlah perusahaan besar seperti Lippo Karawaci, PP Properti , Su mmarecon Agung, Jababeka Plaza Indonesia, Adhi Persada, ISPI Group, Gapura Prima, Prioritas Land Indonesia, pallux Properties, dan Mustika Land yang akan membangun hunian vertical dengan segala pendukungnya di wilayah Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Investasi terbesar dilakukan oleh Lippo Karawaci yang mencapai Rp 250 triliun. Itu artinya koridor timur Jakarta akan tumbuh pesat terutama sebagai kawasan hunian, khususnya hunian vertical yang akan melayani kepentingan para ekspatriat yang ada di kawasan industri Cikarang. 

Senin, 02 Maret 2015

ASAP ROKOK DI BUS KOTA

Oleh: Darmaningtyas
Ketua Bidang Advokasi Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI)
Dimuat di Koran Kedaulatan Rakyat, 3 Maret 2015

Siang itu (25/2), Bus Kopata jalur 4 yang melintasi kawasan Malioboro banyak penumpang, banyak kursi yang terisi. Hanya empat kursi depan samping kiri pengmudi yang masih kosong. Seorang bapak naik di depan Pura Pakualaman dan kemudian duduk di kursi nomer dua dari depan samping kiri pengemudi yang masih kosong tadi. Udara panas, tapi bapak itu naik ke  dalam bus kota dengan tanpa mematikan rokoknya, dia masih tetap merokok di dalam bus kota yang banyak penumpang tersebut. Seorang ibu yang duduk persis di belapang  pengemudi dan kanan bapak yang tidak mematikan rokok itu mengambil masker untuk menutup hidungnya. Rupanya ibu itu tidak tahan asap rokok, tapi tidak berani menegur bapak yang merokok. Belakangan ketahuan bapak tersebut temen pengemudi bus kota, terlihat dari percakapan mereka yang amat akrab.

Mempertimbangkan Penghapusan Kopertis

Oleh: Darmaningtyas 
Pengamat Pendidikan, Penulis Buku “Melawan Liberalisasi Pendidikan” 
Dimuat Di Koran Sindo, Senin,  2 Maret 2015

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristek- Dikti) M Nasir mewacanakan penghapusan dikotomi antara PTN (perguruan tinggi negeri) dan PTS (perguruan tinggi swasta). 

PERMASALAHAN BARU UJIAN NASIONAL

OLEH: DARMANINGTYAS
Aktivis Pendidikan di Tamansiswa
Dimuat Di Koran Tempo, 2 Maret 2015

Ada dua masalah baru yang terkait dengan Ujian Nasional (UN), yaitu satu persoalan substansi, terkait dengan fungsi UN itu sendiri; dan kedua terkait dengan metodologi, yaitu berkaitan dengan pelaksanaan UN yang memakai bahan cetak serta berbasis komputer. Selama ini, UN hanya menggunakan satu cara saja, yaitu cetak, tapi pada UN 2015 ini diuji-cobakan pelaksanaan UN dengan berbasis komputer.

Senin, 23 Februari 2015

PENDIDIKAN BERBASIS BUDAYA[1]

OLEH: DARMANINGTYAS
Pengantar:

Subtema Seminar Nasional mengenai “Kembali Budaya Bangsaku” yang merupakan rangkaian acara dari “Festival Pendidikan 2015” tingkat Jawa Tengah dengan tema “Menggali Nilai-Nilai Budaya dalam Pendidikan” ini mengingatkan kita terhadap arah pendidikan nasional yang seakan tercerabut dari akar budaya bangsa, sehingga budaya bangsaku itu sendiri hilang karena pendidikan yang seharusnya menjadi penyemai budaya bangsa tidak berakar lagi pada budaya, melainkn berakar pada paham pragmatisme kehidupan.

Senin, 16 Februari 2015

MENANTI AYAH BUNDA

OLEH: DARMANINGTYAS

Ayah Bunda merupakan sebutan yang amat khas di kalangan kelas menengah terdidik. Jarang sekali anak-anak dari orang kebanyakan menyebut kedua orang tua mereka dengan sebutan “ayah bunda”. Sebutan “ayah bunda” itu memperlihatkan kelekatan emosional relasi antara relasi anak dengan orang tuanya (bapak dan ibu). Para ibu dari kalangan terdidik yang care terhadap anaknya akan selalu membahasakan anaknya dengan “bunda”.  Tidak aneh bila sebutan “ayah bunda” itu kemudian menjadi nama majalah keluarga. Pilihan nama tersebut, bukan tanpa pertimbangan yang masak, tapi didasarkan pada makna filosofis dan semantic. Itulah sebabnya namanya “ayah bunda”, bukan “bapak ibu” atau “papa mama”.