Kamis, 03 Juli 2014

BECAK MOTOR DAN PARIWISATA YOGYAKARTA


Oleh : Darmaningtyas, Ketua Bidang Advokasi MTI (Masyarakat Transportasi Indonesia) di Jakarta
Dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat, tanggal 2 Juli 2014

Becak dan andong merupakan salah satu daya tarik wisata Kota Yogyakarta. Artinya tidak jarang seseorang ingin berwisata ke Yogyakata karena ingin merasakan keliling kota dengan naik becak/andong. Tamasya berkeliling kota dengan naik becak banyak dilakukan oleh para wisatawan asing (bule). Pada umumnya, yang dinaiki oleh para wisatawan itu adalah becak yang dikayuh dengan tenaga manusia (becak tidak bermotor), bukan dengan tenaga mesin atau yang dikenal dengan becak bermotor (Betor). Ini menandakan bahwa becak merupakan daya tarik tersendiri bagi wisatawan asing maupun domestik pada saat berwisata di Yogyakarta.

Selasa, 20 Mei 2014

PRAHARA UJIAN NASIONAL

OLEH: DARMANINGTYAS
AKTIVIS PENDIDIKAN TAMANSISWA
 Dimuat di Koran Tempo, Rabu 21 Mei 2014

Hasil Ujian Nasional (UN) tingkat SMA/SMK/MA/MAK telah diumumkan dan nilainya ternyata tidak menggembirakan karena rata-rata hanya mencapai 6,12, jauh lebih rendah dibandingkan dengan nilai rata-rata Ujian Sekolah (US) yang mencapai 8,39%. Kesenjangan yang jauh antara nilai UN dengan nilai US itu wajar mengingat soal US dibuat oleh guru sendiri yang sudah tahu kenampuan muridnya sehingga tidak akan membuat soal yang lebih rumit.

Rabu, 07 Mei 2014

KEGAULAN STIP

OLEH: DARMANINGTYAS
Dimuat Di Koran Tempo, Hari Senin Tanggal 5 Mei 2014

Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) merasa galau pasca kasus meninggalnya Taruna Dimas Dimika Handoko yang dianiaya oleh senior. Meski penganiayaan terjadi di tempat kos dan di luar jam kuliah, tak urung kasusnya menyeret nama institusi STIP secara keseluruhan.  Seluruh jajaran STIP, bahkan Kementrian Perhubungan selaku induk dari STIP pun menerima getahnya. Hal itu tidak terlepas dari respon keras masyarakat, termasuk Menteri Pendidikan dan Kebudayaan M. Nuh yang berencana akan menutup dua prodi (Nautika dan Tehnika) yang tarunanya terlibat tindak kekerasan selama dua tahun untuk memutus rantai kekerasan.

MENGURANGI KESENJANGAN AKSES DAN KUALITAS PENDIDIKAN

OLEH: DARMANINGTYAS
KETUA DEPARTEMEN DAN PEMBUDAYAAN NILAI-NILAI KEJUANGAN 45 DEWAN HARIAN NASIONAL (DHN) 45 
Dimuat Di Harian Sore Suara Pembaruan, Tanggal 2 Mei 2014

Persoalan kesenjangan akses dan mutu pendidikan antara Jawa versur luar Jawa, serta antara kota versus desa, saat ini masih sangat terasa. Jawa dengan infrastruktur transportasi dan telekomunikasi yang bagus realtif tidak ada lagi masalah akses, karena sejak Orde Baru melalui Program Inpres (Instruksi Presiden) telah berhasil membangun SD-SD baru sampai di tingkat desa. Setiap desa minimum ada satu SD, sejak 1990-an setiap kecamatan minimum ada satu SMPN, dan di kecamatan yang dianggap ramai (jumlah penduduknya) didirikan SMAN/SMKN. Setiap kabupaten/kota di Jawa telah memiliki perguruan tinggi swasta (PTS). Empat puluh persen PTN yang ada di Indonesia berada di Jawa.

Selasa, 29 April 2014

KEKACAUAN SEKOLAH INTERNASIONAL

OLEH: DARMANINGTYAS
KETUA DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN PEMBUDAYAAN NILAI-NILAI KEJUANGAN 45 DEWAN HARIAN NASIONAL (DHN) 45
Dimuat di Harian Sore Suara Pembaruan April 2014

Keberadaan sekolah-sekolah internasional tiba-tiba digugat dengan munculnya kasus kejahatan seksual yang terjadi di Jakarta Internasional School (JIS). Saya merasa lebih pas menggunakan istilah kejahatan, bukan sekedar pelecehan seks karena kalau pelecehan itu sebatas ungkapan verbal dan/atau sentuhan fisik yang menimbulkan rasa jijik kepada korban, sementara yang terjadi pada anak-anak JIS itu bukan sekedar ungkapan verbal/sentuhan fisik, melainkan sudah sampai menyakiti dan menimbulkan trauma pada korban.

Kamis, 24 April 2014

MENJADIKAN SEKOLAH RAMAH ANAK

Oleh: Darmaningtyas
Ketua Departemen Pendidikan dan pebudayaan Nilai-nilai Kejuangan 45 
Dewan Harian Nasional (DHN) 45, Jakarta
Dimuat di Harian Sinar Harapan tanggal 23 April 2014

Kasus tindak kejahatan seksual yang menimpa anak-anak TK JIS (Jakarta International School) mengagetkan dan sekaligus menggegerkan dunia pendidikan negeri kita, karena hal itu terjadi di sekolah yang memiliki label internasional. Masyarakat selalu membayangkan segala sesuatu yang berlabel “internasional” itu serba sempurna, termasuk perlindungan terhadap anak-anaknya akan lebih terjaga. Namun ternyata penggambaran yang serba ideal itu hancur dengan adanya kasus yang mencuat ke publik tersebut. 

Senin, 07 April 2014

UNDANG-UNDANG PENDIDIKAN DARI MASA KE MASA (Bagian I)

OLEH: DARMANINGTYAS 
PENULIS ADALAH KETUA DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN PEMBUDAYAAN NILAI-NILAI KEJUANGAN 45, DEWAN HARIAN NASIONAL 45, JAKARTA
Dimuat di Harian Sore Suara Pembaruan, Senin 7 April 2014

Pendidikan nasional kembali disorot ketika Direktur Program, Abdullah Darras mempublikasikan hasil penelitian yang dilakukan oleh Maarif Institute pada tahun 2011 lalu. Salah satu hasil penelitian tersebut sebanyak 60% lebih murid SMP dan SMA Negeri di Jabodetabek tidak percaya lagi terhadap nilai-nilai Pancasila, sehingga mereka pun menolak ikut upacara bendera.