Rabu, 29 Juli 2015

OJEK, GO-JEK, DAN GRABBIKE

OLEH: DARMANINGTYAS
Ketua INSTRAN (Institut Studi Transportasi), NGO Transportasi di Jakarta
Dimuat di Majalah Sindo Weekly No. 18 Tahun IV, Edisi 2 - 8 Juli 2015

Ojek, Go-Jek, dan Grabbika merupakan isu yang tiba-tiba hangat setelah Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahja Purnama (Ahok) pertengahan Juni lalu melontarkan idenya agar ojek-ojek itu lebih baik bergabung dengan Go-Jek sehingga mereka memiliki kesempatan bertemu keluarga lebih lama karena tidak harus mangkal di tempat-tempat tertentu sepanjang hari untuk mendapatkan penumpang, tapi bisa menununggu penumpang di rumah sambil bercengkerama bersama keluarga.

Senin, 27 Juli 2015

KERETA CEPAT, BUKAN KEBUTUHAN

Oleh: Darmaningtyas
Ketua  INSTRAN (LSM Transportasi) di Jakarta
Dimuat di Bisnis Indonesia, Senin 27 Juli 2015

Wacana tentang rencana pembangunan kereta api cepat (KA) Jakarta – Bandung kembali mengemuka. Wacana ini pernah muncul pada awal 2014, saat masih masa Pemerintahan Susilo Bambang Yudoyono (SBY).  Pada saat itu Kementrian Perhubungan (Kemenhub) menyatakan Indonesia sangat membutuhkan KA Super Cepat Jakarta – Surabaya untuk menghubungkan kedua kota tersebut. Rute Jakarta – Surabaya itu pula yang diusulkan oleh pihak Jepang. Namun menurut Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono saat itu, pemerintah bisa mendesain kereta tersebut melewati Bandung. Pada saat itu, Dirjen Perkeretaapian Kemenhub, Hermanto Dwi Atmoko menyatakan bahwa studi kelayakan sudah dilakukan bekerjasama dengan Jepang.

Minggu, 26 Juli 2015

PENDIDIKAN TOLERANSI

OLEH: DARMANINGTYAS
Pengurus DHN (Dewan Harian Nasional) 45 
Dimuat di Koran Tempo Senin, 27 Juli 2015

Paska reformasi politik (1998) wacana pendidikan multikutural sempat mengemuka, sebagai counter terhadap kebijakan pendidikan masa Orde Baru yang Jawa centris dan kurang memberikan ruang bagi berkembangnya potensi lokal. Melalui pendidikan multikultural diharapkan perbedaan-perbedaan yang ada, baik itu agama, etnis, suku, dan bahasa ibu bukan menjadi pemicu konflik, tapi diterima sebagai realitas hidup. Namun apa yang diharapkan bertolak belakang dengan realitas di lapangan. Hal itu tidak terlepas dari dinamika politik yang berkembang paska reformasi yang melahirkan multi partai dengan asas yang beragam.

Kamis, 23 Juli 2015

MENGURAI KEBUNTUAN MANGGARAI - GAMBIR

Oleh: Darmaningtyas
Penulis adalah Ketua Instran (LSM Transportasi) di Jakarta
Dimuat di Harian Sore Suara Pembaruan, Kamis 23 Juli 2015

Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) pada saat mengunjungi Stasiun Kereta Api Kampung Bandan (10 Juni 2015) mengemukakan bahwa Pemprov DKI Jakarta akan memanfaatkan lahan milik PT KAI untuk membangun rumah susun sewa (Rusunawa ) di Stasiun Manggarai dan Stasiun Kampung Bandan dengan model kerja sama. Pemprov DKI Jakarta akan membangun rusunnya, kelak rusun tersebut akan menjadi aset milik PT KAI. Gubernur Ahok mengaku terinspirasi dari India, yang membangun Rusunawa di pinggir rel KA sehingga orang-orang itu tinggal di dekat stasiun agar dapat menghemat biaya hidupnya. 

Selasa, 07 Juli 2015

JEBAKAN PEMERINGKATAN

OLEH: DARMANINGTYAS
Penulis Buku Melawan Liberalisasi Pendidikan
Dimuat di Koran Tempo, Selasa 7 Juli 2015

Para pengelola Perguruan Tinggi (PT), baik Negeri (PTN) maupun Swasta (PTS) sama-sama terjebak pada paradigma ranking yang dibuat oleh lembaga perankingan dunia. Setiap kali lembaga-lembaga perankingan mengeluarkan daftar universitas dunia yang dikategorikan terbaik (?), maka para pengelola PTN/PTS pun gaduh. Pada tahun 2015 ini lembaga perankingan  Webometric merilis hasil perankingannya dan hanya dua PTN di Indonesia saja yang masuk ke dalam 500 PT terkemuka di dunia, yaitu UI dan ITB. Hasil perankingan inipun tak pelak membuat Menteri Ristek dan Dikti M. Nasir gelisah, sehingga mendorong PTN-PTS di Indonesia untuk lebih banyak mendunia.

MENYIAPKAN ANGKUTAN LEBARAN 2015

OLEH: DARMANINGTYAS 
KETUA BIDANG ADVOKASI MTI (MASYARAKAT TRANSPORTASI INDONESIA)
Dimuat di Harian Sore Suara Pembaruan, Selasa 7 Juli 2015
 
Idul Fitri atau Hari Raya Lebaran merupakan hajatan besar bagi Pemerintah dalam penyelenggaraan transportasi. Kemampuan pemerintah dalam menyelenggarakan transportasi bagi warganya akan terlihat melalui beres/tidaknya dalam penyelenggaraan Lebaran. Oleh karena itulah penyelenggaraan angkutan Lebaran dari tahun ke tahun selalu diusahakan untuk menjadi lebih baik karena dari sanalah kinerja Pemerintah dalam penyelenggaraan transportasi nasional dapat terlihat. Asumsinya, jika penyelenggaraan angkutan Lebaran beres, maka penyelenggaraan transportasi sehari-harinya lebih baik lagi mengingat tingkat kompleksitasnya jauh lebih tinggi dalam penyelenggaraan angkutan Lebaran. Dalam masa Lebaran ini  puluhan juta warga melakukan pergerakan atau mobilitas geografis ke berbagai penjuru dalam waktu yang bersamaan. Kemampuan Pemerintah dalam mengelola pergerakan yang massif itu dapat menjadi indicator dalam mengelola pergerakan regular.

Selasa, 23 Juni 2015

Memberesi Transportasi di Jakarta

Oleh: Darmaningtyas
Penulis adalahKetua Instran (Institut Studi Transportasi) di Jakarta
Dimuat di Harian Sore Suara Pembaruan, Selasa 23 Juni 2015

Kota Jakarta baru saja merayakan usianya yang ke-488 tahun. Usia itu dihitung sejak Fatahillah berhasil menundukkan Portugis dan mengganti nama dari Sunda Kelapa menjadi Jayakarta pada tanggal 22 Juni 1527. Pada masa Walikota Jakarta dijabat oleh Soediro (1953-1958) kajian mengenai HUT Kota Jakarta itu dilakukan dengan membentuk tim yang terdiri dari Mr. Mohamad Yamin, Dr. Soekatno, dan wartawan senior Sudarjo Tjokrosiswoyo . Hasilnya, tanggal 22 Juni 1527 itulah yang mendekati, sehingga jadilah tiap 22 Juni diadakan sidang istimewa DPRD Kota Jakarta sebagai tradisi memperingati berdirinya Kota Jakarta. Pada usianya yang ke-488 itu, Jakarta dihadapkan pada berbagai persoalan yang semakin kompleks seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk, yang saat ini telah mencapai lebi h dari 9,7 juta jiwa.