Langsung ke konten utama

YOGYA TIDAK PERLU JALAN TOL

Oleh : Darmaningtyas

Di media sosial dan juga viral melalui WhatsApp (WA) dalam satu minggu terakhir (Juli minggu ketiga) ramai dibcarakan pernyataan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X mengenai penolakannya terhadap pembangunan jalan tol di Yogyakarta dengan alasan jalan itu tanggung jawab pemerintah, yang musti bisa dinikmati oleh rakyat secara gratis, bukannya dibangun oleh  swasta, lalu rakyat yang lewat harus bayar mahal. “Di Yogyakarta tidak ada jalan tol. Pemerintah Pusat juga sepakat, saya (Sultan Yogya) tidak setuju adanya jalan tol,  karena rakyat tidak akan mendapatkan apa-apa. Kalau jalan mau diperlebar itu silahkan saja, tetapi jangan dibikin tol”, demikian kata Sultan BH X. Menurutnya, yang diuntungkan dengan adanya tol itu pihak yang membuat tol saja, tetapi rakyat di sekelilingnya tidak dapat apa-apa, karena jalan tol itu ditutup, orang di kiri kanan tol tak memiliki akses ke jalan itu, kecuali harus bayar dan seringkali harus mutar-mutar dulu dan jauh pula.


Jujur saja saya gembira sekali membaca pernyataan tersebut karena mewakil aspirasi saya yang selama ini berteriak menolak pembangunan Tol Trans Jawa, tol di Teluk Benoa Bali, dan menolak pembangunan enam ruas tol dalam kota Jakarta. Mengapa? Tol Trans Jawa itu menghancurkan lahan-lahan subur dan sekaligus cadangan sumber air baku di Jawa. Padahal Pulau Jawa merupakan lumbung pangan dan air nasional. Bila lumbung pangan dan air itu dihancurkan untuk jalan tol, maka bencana kelaparan dan haus nasional itu tinggal menunggu waktu saja. Dengan selesainya pembangunan Tol TransJawa kelak (2019) maka Jawa telah berubah menjadi kota (Jawa), karena lahan subur di kanan kiri tol akan habis untuk pemukiman dan tempat usaha baru. Kerusakan lingkungan itu juga terjadi pada pembangunan Tol Bali Mandara di atas Teluk Benoa karena dibangun di atas hutan mangrove, sehingga keberadaan jalan tol tersebut merusak ekosistem mangrove.

Alasan ekologis itu pula yang mendasari saya terus bersuara menolak rencana pembangunan enam ruas jalan tol tengah kota di Jakarta mengingat daya dukung lingkungan Kota Jakarta sudah tidak memenuhi lagi untuk dibangun jalan tol baru. Secara teknis juga menunjukkan bahwa jalan-jalan tol, flyover, dan underpass yang dibangun di Jakara terbukti tidak mengatasi kemacetan lagi, sebaliknya menjadi sumber kemacetan baru. Makin banyak jalan tol, flyover, dan underpaass dibangun bukan makin lancar, tapi justru makin macet, karena jalan-jalan tersebut ibarat undangan untuk menggunakan mobil pribadi. 

Berdasarkan pengalaman pembangunan jalan tol di Jakarta, Tol Trans Jawa, dan tol di Teluk Benoa Bali yang ternyata tidak menyelesaikan masalah transportasi, tapi melahirkan persoalan baru, maka sikap Gubernur DIY Sri Sultan HB X menolak pembangunan tol di wilayah DIY merupakan sikap yang tepat, rasional, dan bijak, sehingga perlu didukung. Hal yang sudah pasti akan terjadi bila di wilayah DIY dibangun jalan tol adalah terpisahnya komunitas antara sebelah kanan dengan sebelah kiri tol, padahal mungkin mereka sebelumnya satu RT. Pada jalan ringrod seperti sekarang ini, masyarakat yang terpisah itu masih bisa menyeberang jalan untuk bertemu dengan tetangga yang berada di seberang jalan. Tapi hal itu tidak mungkin terjadi pada jalan tol yang hanya dilalui oleh kendaraan roda empat ke atas dengan kecepatan minimal 60 km/jam. Menyeberang jalan tol sama saja menjemput maut. Interaksi mereka hanya mungkin terjadi bila dibangunkan jembatan penyeberang orang (JPO), tapi itu pun tidak akan efektif karena orang malas untuk naik-turun JPO, apalagi lokasi JPO jauh dari pemukiman mereka.  

Angkutan Umum Massal dan NMT

Sebagai kota pelajar, kota budaya, dan kota wisata; Yogyakarta tidak membutuhkan jalan tol yang membuat keterpisahan komunitas satu dengan komunitas lainnya, melainkan memerlukan angkutan umum massal yang dapat dipakai untuk melakukan mobilitas warga dan para wisatawan secara mudah dan murah. Mudah dalam artian gampang diakses kapan saja dan di mana saja, sedangkan murah dari aspek harganya yang terjangkau oleh semua warga. Angkutan umum massal ini perlu didukung dengan kendaraan tidak bermotor (non motorize transportation/NMT) sebagai angkutan pengumpanya (feeder transpot), sehingga orang bisa naik sepeda atau naik becak menuju halte dan kemudian melanjutkan perjalanan dengan menggunakan bus. Demikian pula ketika kembali, setelah turun dari bus mereka naik sepeda/becak kembali ke rumah/tujuan akhir. Sayang keduanya itu sudah langka di Yogyakarta. Angkutan umum jumlahnya terbatas dan jalurnya berputar-putar, sedangkan becak-becak telah berubah menjadi becak motor (bentor) yang polutif, dan sepeda tergusur oleh sepeda motor. 

Saatnya Pemkot Yogya dan Pemprov DIYmelakukan revolusi transportasi dengan membangun angkutan umum massal yang memberikan layanan sampai malam hari, menghapuskan bentor, mengembangkan becak listrik, serta membangun jalur khusus sepeda, seperti yang direncanakan Kota Oslo (Swedia) yang pada tahun 2019 menargetkan kota bebas kendaraan bermotor pribadi. Revolusi transportasi itu koonsisten dengan penolakan Gubernur Sri Sultan HB X terhadap pembangunan tol di Yogyakarta. Menolak tol tanpa melakukan revolusi transportasi tidak akan memiliki makna apa-apa. 


Darmaningtyas, Ketua INSTRAN (LSM Transportasi) dan Ketua Bidang Advokasi MTI (Masyarakat Transortasi Indonesia)


Dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat tanggal 27 Juli 2017

Komentar

  1. There are certainly a lot of details scr888 android and ios download like that to take into consideration.Like your Posts.Thanks Keep Posting.

    BalasHapus
  2. Thanks for 918kiss download apk pc the update you have nicely covered this topic. keep it up

    BalasHapus
  3. If you could message me with any hints & tips on how you made your blog look this cool, I would be 168 8099 apk scr888 casino game 4 appreciative!Great blog you have here - market is very slow - Hopefully things will begin picking back u

    BalasHapus
  4. Thanks for SCR88 Apk Download the information and links you shared SCR888 Download this is so should be a useful and quite SCR88 Apk Download informative!

    BalasHapus
  5. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

BIODATA DARMANINGTYAS

BIODATA DARMANINGTYAS, menggeluti pendidikan sejak mulai menjadi mahasiswa baru di UGM, Agustus 1982 dengan menjadi guru di SMP Binamuda dan SMA Muhammadiyah Panggang, Gunungkidul, DIY. Pendidikan formalnya cukup Sarjana Filsafat Universitas Gadjah Mada (UGM) dan selebihnya otodidak. Gelar “Profesor Doktor” diperoleh dari undangan, sertifikat, piagam, spanduk, dan sejenisnya; sebagai bentuk pengakuan nyata dari masyarakat.

MENYELAMATKAN ANGKUTAN UMUM KITA

Oleh : DARMANINGTYAS Media Maret 2017 muncul aksi demontrasi dari sopir angkot dan tasi legal di beberapa kota di Indonesia, seperti Medan, Tangerang, Bandung, Yogyakarta, dan Malang yang menolak kehadiran taxi illegal atau yang dikenal dengan sebutan taxi online maupun ojek online. Mereka beranggapan bahwa kedua jenis moda tersebut merupakan biang kerok sepinya penumpang. Setahun silam, muncul aksi besar yang dilakukan oleh awak taxi resmi di Jakarta juga menolak kehadiran taxi illegal karena dinilai telah menghancurkan bisnis taxi resmi. Penulis pakai istilah taxi resmi (legal) versus illegal karena itulah yang tepat. Taxi legal itu bergerak berdasarkan aturan-aturan yang amat ketat, sedangkan taxi illegal tanpa aturan sama sekali. Dikhotomi taxi online versus konvensional terasa kurang tepat mengingat yang disebut konvensional pun telah mempergunakan aplikasi teknologi, seperti yang terlihat di Taxi Expres dan Blue Bird. Hanya saja taxi legal ini tidak bisa pasang tarif renda...

PRIVATISASI PTN YANG MEMBATASI AKSES

Harian Kompas medio Januar-Maret 2024 banyak menurunkan liputan maupun opini terkait akses pendidikan tinggi (PT) yang masih menjadi problem hingga sekarang, sehingga angka partisipasi pendidikan tinggi kita masih di bawah 40%. Salah satu penyebab utamanya adalah biaya PT secara keseluruhan yang dinilai mahal, baik di perguruan tinggi negeri (PTN), Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTNBH), maupun perguruan tinggi swasta (PTS). Adanya kendala biaya tersebut memunculkan wacana pemberian pinjaman pendidikan bagi mahasiswa (Kompas, 30/3. hal.10). Biaya kuliah itu terbagi dua, yaitu biaya yang dibayarkan ke PT, baik biaya investasi maupun operasional atau dikenal dengan uang kuliah; serta biaya personal, yaitu biaya yang dikeluarkan oleh mahasiswa sehari-hari, seperti makan, bayar kos, transportasi, pembelian laptop, paket internet, buku, dll.. Besaran uang kuliah di PTN/PTS reguler sebetulnya masih terjangkau karena per semesternya jauh dibawah uang sekolah di SMA/MA/SMK swasta. Namun y...