Rabu, 12 Juli 2017

EVALUASI ANGKUTAN LEBARAN 2017

Oleh : DARMANINGTYAS

Usai sudah hajatan besar penyelenggaraan angkutan mudik Lebaran 2017 dengan segala suka dukanya. Namun secara umum dapat ditarik kesimpulan bahwa penyelenggaraan angkutan mudik Lebaran 2017 ini jauh lebih baik daripada Lebaran 2016 atau tahun-tahun sebelumnya. Ini hal yang wajar karena Pemerintah selalu belajar dari pengalaman tahun-tahun sebelumnya. Ada dua indikator yang dapat dipakai sebagai dasar penyimpulan bahwa penyelenggaraan angkutan mudik Lebaran 2017 lebih baik dari sebelumnya, yaitu arus lalu lintas yang lebih lancar dengan tingkat kemacetan (secara sporadis) maksimal lima jam, serta menurunnya jumlah korban meninggal akibat kecelakaan mencapai 40% lebih.


Ada beberapa faktor yang menyebabkan penyelenggaraan angkutan mudik Lebaran 2017 ini lebih baik. Pertama, tingkat koordinasi antar instansi terkait (Kemenhub, PUPR, Kepolisian, Kementerian Kesehatan, Jasa Raharja, Kominfo, dan para operator jalan tol maupun angkutan umum berjalan bagus. Sepanjang pengalaman penulis sebagai pengamat, baru kali ini melihat koordinasi antar Kementerian/Lembaga (K/L) itu berjalan harmonis sejak awal, dari atas sampai bawah. Kunjungan ke lapangan sejumlah Menteri (Perhubungan, PUPR, dan Kesehatan) serta Kapolri secara bersamaan dilakukan beberapa kali dan di beberapa tempat. Watak birokrasi kita, ketika pucuk pimpinan harmonis, secara otomatis ke bawah pun akan ikut harmonis. Suatu hal yang sebelumnya tidak pernah terjadi.

Kedua, belajar dari pengalaman pahit mudik Lebaran 2016 yang memunculkan Horor Brexit, yaitu 17 orang meninggal dunia akibat kemacetan yang terlalu lama di pintu keluar Tol Brebes Timur (Brexit), pada mudik Lebaran 2017 ini semua K/L terkait melakukan persiapan matang sejak dini guna menghindari terulangnya horor Brexit. Salah satunya adalah memfungsikan tol darurat dari Brebes Timur hingga Grinsing (Batang) yang khusus dipersiapkan untuk dapat dilewati oleh arus mudik/balik dari mudik. Meskipun kecepatan di tol darurat itu hanya 40 km/jam dan hanya dilintasi siang hari saja, terbukti dapat mengurangi kepadatan arus lalu lintas di Pantura. Jika tahun 2016 semua kendaraan yang melintas di Tol Cipali hanya bisa keluar di pintu Tol Pejagan, Brebes Barat, dan Brebes Timur; pada mudik 2017 juga bisa keluar di Sewaka, Beji (masuk Pantura), Bojong (langsung ke Banjarnegara), Kandeman yang langsung masuk Pantura, SS Tulis, Kedung Segog (7 km dari Pantura), Banyuputih, dan Gringsing; sehingga tidak menumpuk di satu titik saja di Pantura.

Ketiga, ini yang di luar kalkulasi teknis penyelenggara angkutan mudik Lebaran, waktu Idul Fitri 1438 H yang bertepatan dengan waktu pencarian sekolah baru bagi lulusan SD/MI dan SMP/MTs, juga bagi lulusan SMA/SMK/MA yang akan mencari bangku kuliah, menyebabkan banyak warga di Jabodetabek tidak mudik, mereka lebih baik menghemat uangnya untuk keperluan pendidikan anak-anaknya daripada dihabiskan untuk mudik, dengan prinsip masih bisa mudik tahun depan. Hal itu dibuktikan dengan kondisi kampung halaman yang tidak semeriah tahun-tahun sebelumnya dan diperkuat dengan data arus kendaraan bermotor (roda dua maupun roda empat) yang mengalami penurunan, tidak seperti yang diprediksikan, yang akan mengalami kenaikkan di atas 10%. Kondisi ekonomi yang sulit mendorong orang berfikir realistis, memilih tidak mudik daripada setelah mudik bingung.

Mudik Lebaran dengan kondisi lancar tidak hanya terjadi pada moda transportasi darat saja, tapi juga terjadi pada pelayanan semua moda transportasi (kereta api, angkutan laut, dan udara). Baik layanan kereta api, angkutan laut, dan udara cukup lancar tidak mengalami gangguan berarti, boleh dikatakan ketiga moda transportasi tersebut nihil kecelakaan. Yang terjadi hanyalah insiden saja, belum sampai accident (kecelakaan) yang dapat mengancam keselamatan transportasi.

Insiden yang terjadi pada angkutan KA itu misalnya, perjalanan KA Tawangjaya saat arus balik (Jumat, 30/6) sempat mengalami keterlambatan tiba di Stasiun Pasar Senen lantaran mengalami gangguan, yang ditengarai oleh penumpang roda gerbang 13-14 lepas dari rel saat akan memasuki Stasiun Cirebon, sehingga sempat miring. KA yang berangkat dari Stasiun Poncol Semarang jam 13.15 dan seharusnya tiba di Stasiun Senen jam 20.10,  baru tiba Stasiun Senen jam 21.00 lebih lantaran KA perlu perbaikan di Stasiun Cirebon.

Insiden juga terjadi pada KMP Permata yang melakukan perjalanan dari Pelabuhan Kolaka, Sulawesi Tenggara menuju Libureng, Bone ketika seorang penumpang, Sugima Bintu Tunru (60) meninggal karena terjatuh ke laut di Perairan Teluk Bone (20/6). Juga terjadi pada KMP Mutiara Alas III ketika seorang penumpang, Mahbub (18) terjatuh di Perairan Gilimanuk (28/6), sehingga KMP Mutiara Alas III terkena sanksi stop operasi. Namun semua insiden itu tidak sampai berlanjut pada tingkat kecelakaan. Catatan untuk mudik memakai kapal laut ini adalah karena kapasitasnya terbatas sehingga masih diberikan toleransi atau dispensasi boleh mengangkut penumpang lebih dari 100%, bahkan toleransi itu ada yang berkisar 40- 66%. Tentu saja toleransi atau dispensasi itu cukup berbahaya untuk keselamatan pelayaran, sehingga pada mudik yang akan datang tidak boleh terjadi lagi.

Optimalkan Angkutan Umum

Capaian yang bagus dalam penyelenggaraan angkutan mudik Lebaran 2017 ini hendaknya dapat dijadikan sebagai momentum perbaikan pelayanan angkutan mudik Lebaran yang lancar, berkeselamatan, dan manusiawi guna menghilangkan stigma buruk selama berpuluh tahun bahwa pelayanan angkutan Lebaran itu identik dengan kemacetan, kurang manusiawi dan tingginya korban meninggal dunia akibat kecelakaan saat mudik/arus balik.

Penyelenggaraan angkutan mudik Lebaran tahun-tahun berikutnya tentu akan lebih bagus lagi karena insfrastruktur jalan, jaringan rel kereta, pelabuhan, maupun bandara udara sudah bertambah banyak dan siap untuk menyambut arus mudik. Di Jawa dan Sumatra misalnya, Tol Trans Jawa dan Trans Sumatra pada Lebaran 2018 mungkin sudah operasional penuh semua sehingga dapat digunakan secara optimal. Jaringan jalan di Trans Kalimantan sepanjang 1.000 km juga sudah selesai sehingga dapat memperlancar mobilitas antar warga di Kalimantan, tanpa tergantung pada layanan angkutan laut. Demikian pula jaringan rel ganda Jakarta – Surabaya lintas selatan (melalui Purwokerto dan Yogyakarta) sudah beroperasi sehingga kapasitas kereta api dapat ditingkatkan; kesemuanya itu akan menambah kelancaran mobilitas para pemudik. 

Namun mudik mendatang akan jauh lebih lancar dan berkeselamatan bila mengoptimalkan penggunaan angkutan umum, baik berbasis jalan (bus), rel (kereta api), laut, maupun udara. Hal itu mengingat kapasitas angkutan umum jauh lebih banyak dibandingkan dengan kendraan pribadi. Dan terbukti, angka kecelakaan selama mudik Lebaran dari tahun ke tahun terbanyak terjadi pada kendaraan pribadi, bukan pada agkutan umum. Meskipun pada musim mudik Lebaran 2017 ada beberapa kecelakaan bus, namun jumlah korban yang ditimbulkannya kurang dari satu persen dari total korban kecelakaan selama mudik Lebaran. Ini membuktikan angkutan umum lebih berkeselamatan.

Tugas Pemerintah (Kementerian Perhubungan) adalah membuat perencanaan agar tersedia subsidi angkutan Lebaran khusus untuk bus dan kapal laut agar warga menengah ke bawah dapat berlebaran dengan menggunakan angkutan umum tanpa harus membayar tarif yang lebih mahal, karena kemahalannya ditanggung oleh Pemerintah melalui subsidi. Saatnya keberpihakan Pemerintah terhadap masyarakat menengah ke bawah diwujudkan secara nyata dengan memberikan subsisi angkutan Lebaran, khususnya untuk bus dan angkutan laut. Hal itu mengingat penumpang bus dan kapal laut adalah msyarakat kelas menengah ke bawah. Apa susahnya memberikan subsidi angkutan Lebaran untuk kelas menengah ke bawah? Dengan adanya subsidi, tarif angkutan bus dan kapal laut saat yang harus dibayar oleh penumpang tidak naik, tapi operator tidak rugi karena tuslah (kenaikan tarif Lebaran) dan saat armada kembali kosong selama H-7 hingga H+7 itu dibayar oleh Pemerintah.


DARMANINGTYAS, Ketua INSTRAN (Inisiatif Strategis untuk Transportasi) dan Ketua Bidang Advokasi MTI (Masyarakat Transportasi Indonesia)

1 komentar:

  1. Memang taun 2017 ini saya tidak mengalami macet seperti 2016.
    Mudah-mudahan bisa berlanjut untuk tahun-tahun berikutnya, jangan sampai macet lagi, ya pak.
    Salam kenal sesama blogger

    BalasHapus